Tampilkan postingan dengan label esai. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label esai. Tampilkan semua postingan

Rabu, 12 Oktober 2016

2 --- Joko Widodo


ilustrasi via liputan6

"Aceh itu kampung saya..."

BEGITU sepotong kalimat yang dipajang pada sebuah baliho di perempatan jalan dekat sebuah masjid di Banda Aceh. Baliho besar itu dominan warna merah. Ada gambar wajah dua tokoh di sana. Joko Widodo dan Jusuf Kalla. 

Nah, yang menarik bagi saya tentu nama pertama; Joko Widodo. Sejak awal saya begitu yakin, orang pertama yang ada nama depan Joko-nya tak saling terkait dengan Widodo sebelumnya. Meski, mereka sama-sama punya nama serupa, tapi guratan tangan atau garis nasib jelas berbeda.

Kenapa saya tidak sebut Joko, dan lebih memilih nama keduanya; Widodo. Lazimnya mereka yang bermukim di "Barat" --- mungkin karena saya tinggal di Provinsi paling barat di Negeri ini--- terbiasa memanggil nama yang kedua. Contoh: Husni Mubarak, kami panggilnya Mubarak. Kalau Barrack Obama, dipanggil tetap Obama, Hasan Tiro di sana tak dipanggil Hasan, tapi Tiro. Begitulah seterusnya.

Nah, Widodo yang kedua ini “toke kayu”. Dia pengusaha mebel yang kemudian “tergoda” terjun ke politik. Karena itulah, maka dia kemudian menjadi Walikota Solo. Di Surakarta dia adalah idola; sederhana, suka beranjangsana alias blusukan menemui rakyat. 

Berhasil di Solo, Widodo yang lebih popular dengan nama Jokowi ini menjadi gubernur, tapi bukan gubernur di Jawa Tengah. Dia malah sukses menjadi Gubernur di Ibukota Negara pula; Jakarta. Pasti ini perjalanan karier yang luar biasa. Setelah itu, ternyata gebrakan politiknya belum selesai.

Jika di Solo belum tuntas jabatan di periode kedua, maka saat memimpin warga Betawi, dia lebih cepat naik pangkat lagi. Tugas di Jakarta belum tuntas, beban besar lain sudah dipundak. Seperti kita tahu, kini Jokowi resmi menanjak dalam karir politiknya. Dia sudah menjadi orang nomor satu di negeri ini.  

Meraih kursi presiden bukan perkara mudah. Sulit bin susah. Bahkan ada politisi yang berkali-kali ikut suksesi, hingga besok tak jadi-jadi. Lain dengan Jokowi, sekali pasang diri, langsung melenggang ke Istana yang diimpikan semua pelakon politik.

Ada yang menarik sebenarnya bila kita merunut pada perjalanan nasib tokoh ini. Sebelumnya Jokowi adalah pegawai kecil dan pengusaha, lalu menjadi walikota, kemudian menjadi seorang gubernur hingga kemudian mencapai puncaknya di kursi Presiden. 

Memang, sebelum sebagai gubernur, dia sudah mahir memimpin rakyat di tingkat kabupaten atau kota. Untuk duduk di kursi presiden, Jokowi tak perlu melangkahi dulu kursi menteri, seperti presiden sebelumnya. Kariernya memang apik. 

Melihat rekam jejak di pemerintahan, timbul pertanyaan iseng saya; kira-kira dia dulu, Jokowi  pernah nggak jadi lurah sebelum menjadi camat dan kemudian duduk di kursi Walikota. Jika iya, maka sempurnalah jenjang kariernya sebagai “birokrat” yang dimulai dari bawah. 

Barangkali, jika kita tamsilkan dengan bahasa awam, dari kopral hingga jenderal sudah dirasakannya. Semua bersyukur saat Joko Widodo yang sederhana itu menjadi orang nomor wahid di negeri ini. Dia juga akan dicatat sebagai presiden yang punya karir merangkak dari bawah. Kesederhanaanlah yang berbuah kemuliaan. 

Mengomentari nasib Jokowi, orang Aceh pasti bilang dia itu meutuah tuboh (mulia badan). Apalagi lelaki ini punya niat tulus meski bertubuh kurus. Di sayangi semua orang, termasuk media dan wartawan. Tak jarang dia dikultuskan bak pelatih sepakbola yang baru saja memenangi Piala Dunia.

Begitulah perlakuan banyak kalangan untuk pria yang kabarnya  pernah berdinas di Aceh Tengah itu. Tapi kita tak melihat bagaimana ekspresinya, saat tahu di "kampung" sendiri dia kalah dalam "kanduri" Pemilihan Presiden (Pilpres) lalu. Apakah dia juga ikut kecewa seperti Widodo dari bukit Jabal Ghafur itu? Homhai.

Kalau pun kecewa, tentu kita berharap jangan sampai tanoh Aceh ikut menerima imbas. Kita pun berharap, jika terpaksa harus kecewa, jangan sampai membuatnya menganaktirikan Aceh. Tentu kita berharap tak perlu ada airmata yang menetes menangisi Aceh. 

Kita barangkali ingin melihat ‘keringat’ Jokowi dalam bekerja membangun negeri ini, tanpa melihat provinsi mana yang menjadi lumbung suaranya pada masa pemilihan presiden dulu. Tugas beratnya adalah menata Indonesia dengan segala kesumpekannya. Membangun Aceh dengan segala keanehan dan keunikannya. Sebab dari kebhinnekaan itulah yang membuat cikal bakal Nusantara ini menjadi Indonesia. 

Bayangkan jika Indonesia ini kita tamsilkan bak sebuah taman. Bila semuanya isinya adalah bunga kamboja, suasana kuburanlah yang terasa. Namun, saat “taman” Indonesia ini diisi dengan bungoeng Jeumpa, melati, anggrek, bunga bangkai, sampai sedap malam, tentu lebih sedap dipandang mata. [a]

1 --- Widodo


ilustrasi via http://wpaperindonesia.blogspot.co.id

"Saya kecewa sekali melihat Aceh, tidak seperti yang aku bayangkan."

KALIMAT itu masih mengiang-ngiang di daun telinga saya. Gaungnya, serasa bak suara kawanan ribuan tawon yang terbang rendah mencari dahan buat bersarang. Padahal ucapan itu sudah belasan tahun lalu diucapkan seorang mahasiswa culun di atas bukit Gle Gapui, Pidie.   

Di bawah sebatang pohon rindang yang memayungi kami dari terik matahari, lelaki itu "bernyanyi". Segala kekecewaannya melihat Aceh dia tumpahkan ke arah saya. Terasa seperti sengatan sinar matahari yang membakar kulit. Panasnya seakan ikut pula membuat rumput kering.

Akhir-akhir ini, rudal memori saya selalu ke wajah dia. Meski nyaris 18 tahun silam. Saya masih ingat. Siang itu, tubuh kurusnya, ---untuk tidak menyebut kerempeng--- di balut baju berwarna putih, celana biru dongker, sepatu hitam. 

Rambat ikalnya tak awut-awutan. Rapi dan necis. Wajahnya terlihat putih, tapi tak seperti orang yang baru sembuh sakit malaria. Orang Aceh bilang basoe.

Kala itu, dia baru saja keluar dari salah satu ruangan di kampus Universitas Jabal Ghafur. Saya tak ingat lagi fakultasnya apa? Nyaris tak terekam di memory card kepala saya. Tapi yang paling tak bisa saya lupakan adalah, ya sebait kalimat pembuka di atas tadi.

Pria langsing itu mengaku kecewa berat melihat Aceh. Sebagai daerah yang dikaguminya, barangkali wajar bila dia kemudian “uring-uringan”. Lelaki itu adalah Widodo. Saya juga tak ingat lagi, Widodo itu nama pertama atau kedua. Jelas saya lupa berat nama lengkapnya, tapi yang paling gampang lengket diingatan ya, Widodo itu. 

Dari lakabnya, kita sudah bisa menerka dia berasal dari mana. Saya tak tahu apakah dia satu kampung dengan Widodo yang sekarang menjadi Presiden ketujuh di negeri ini atau tidak. Entahlah. Karena nama boleh sama, tapi peukateuen (kelakuan) tentu beda. 

Sebab, kala 1996 itu, sebelum memutuskan merantau ke Aceh, dia berharap di tanah Serambi Makkah, menemukan "kenyamanan" batiniyah. Dia ingin mengisi rohaninya dengan keluhuran ajaran Islam yang begitu kental di Aceh. Dia tahu, Aceh amat kental menerapkan ajaran agamanya dalam kehidupan sehari-hari. Persis seperti yang dia dengar dari kecil, tentang sejarah Aceh yang kesohor.

Widodo kecil kadung tahu, Aceh itu pintu masuknya Islam ke Nusantara. Dia ingin belajar dan "menyambut" langsung ajaran suci itu dari pintu masuknya. Namun, apalah daya, dia melihat Aceh kala itu tak sesuai lagi dengan yang terekam dalam memorinya; tentang daerah yang sudah terkikis nuansa religinya.

Sebelum menginjak kakinya di tanah rencong, mungkin dari hati kecilnya, Widodo berpikir --karena suasana kehidupan yang Islami itulah--- yang menuntun kakinya ke daerah istimewa. Melihat fakta itu, praktis membuat pikirannya penuh kecewa. 

Sebab Widodo tak menemukan Aceh seperti yang direkam sejak kecil. Nuansa Islam tak seperti empat abad silam. Kalau memplesetkan bait lagu si Tegar, --- pengemis kecil bersuara emas --- maka bunyinya jadi begini; Aceh yang dulu bukan Aceh yang sekarang! Begitulah. 

Usai menumpahkan uneg-unegnya, Widodo pun pamit. Apalagi labi-labi -- moda transportasi umum sejenis metro mini -- sudah menanti guna mengangkutnya menuruni bukit Jabal Ghafur dengan penuh kecewa. "Assalamualaikum..." ucap Widodo sebelum badan "langsingnya" menghilang ditelan labi-labi.

Sudah belasan tahun saya mencerna makna dari kekecewaan itu.  

Selasa, 11 Oktober 2016

Kakofoni Polem Ali


Ilustrasi

POLEM Ali dan Polem Reuman kembali berdebat di rangkang blang desanya. Debat kusir ini berawal dari berita pemerintah kembali menerima 325 ribu abdi Negara yang bahasa kerennya pegawai negeri, (baca Harian Aceh, Jumat 25/9/09)

Seperti biasa, seusai pulang dari kebun, mereka singgah sejenak rehat di tempat favorit itu. Keduanya tidak berada di keude kupi atawa cafe bergengsi. Paling banter di rangkang itulah mereka berkeluh kesah.

Kali ini, yang menggelitik keduanya tak lain, ya masalah itu tadi; abdi negara. Kedua polem itu menolak frasa pegawai negeri. Dalam kamus awam keduanya, kehidupan pegawai negeri terlalu enak sekali. Padahal mereka tak lain pengabdi. Ya, mengabdi pada negara. Atas pengabdian itu, mereka pantas menerima segepok duit hasil jerih payah.

Dengan menerima gaji itulah mereka ‘berkewajiban’ melayani masyarakat. Mulai dari yang melarat sampai yang berpangkat. Mulai dari yang berjalan kaki, sampai naik merci. Semuanya harus diberi pelayanan sama, jika mereka berurusan di kantor-kantor pemerintahan.  

Kenapa melayani rakyat? karena memang itu tugas mereka. Apalagi gajinya juga dibayar negara dari uang rakyat. Bukankah, negara mengutip pajak dari rakyat? Hasil pajak itulah yang kemudian, sebagian dipakai untuk membayar gaji abdi negara. Singkat kata, mereka makan gaji dari rakyat juga.

Mengingat hal itulah yang membuat petani plus nelayan ini cang panah poh beurakah. Kalau pun itu menyindir ataupun mengejek orang lain, itu urusan seratus dua fulus, kata Polem Ali yang sengaja mengeja puluh dengan fulus.

Keduanya sudah sepakat peh canang sambil poh cakra di bale blang. Mereka mengaku tak takut istri cemberut bila pulang tidak membawa eungkot meunuloh kesukaan masing-masing peurumoh. Karena sudah ada stok sembako plus banyak fulus yang cukup untuk lima hari.

Polem Ali mengaku bukan benci dengan para abdi. Malahan, dia juga punya besan yang pegawai negeri. Tapi, dia ingin melakukan banyak koreksi untuk kelompok ini. Mulai dari perilaku, hingga isu yang mengepul korupsi. Kemudian, persoalan lain lagi yang juga berselemak kolusi.

Protes
Polem Reuman pun ikut-ikutan. Dia mengaku protes kepada negara. Protes itu dalam diam. Katanya, dia malas jika harus berdemontrasi, apalagi sampai harus jo-jo gateh dengan polisi. Untuk melakukan protes itulah, dia acapkali mengajak Polem Ali adu argumentasi di bale blang. Mulai dari bagi rukok on, kupi, sampai berbagi isi hati. Sudah pasti mengharamkan berbagi istri.

Menurutnya, negara ini keblablasan dan suka pemborosan. Khusus mengkritisi para abdi, kedua Polem ini ingin bertanya kenapa memberi lagi uang pensiuan kepada orang yang memang sudah sejak awal berniat mengabdi. Ini salah kaprah. Pasalnya, selain setiap bulan mereka sudah digaji, ke sana kemari pun dibiayai. Lalu, setiap ada proyek dapat komisi, belum lagi dapat uang ‘administrasi’, ditambah pula upeti yang ’dimasak’ dengan bumbu korupsi.

Praktis, inilah yang membuat kedua Polem ini merasa tak nyaman, dan merasa tak dihargai sebagai warga negara. Memang, kerja seperti petani dan nelayan tidak membawa banyak perubahan. Namun, meski semua itu sudah diatur Tuhan, Polem Ali dan Reuman hanya bisa berserah diri, pada satu sisi. Pada sisi lain, keduanya ingin ’menggugat’ negara dengan banyak alasan.

Salah satunya, soal pesangon hari tua untuk pegawai negeri. Kata Polem Ali, seharusnya mereka (baca; PNS) tak perlu lagi dipasok ’subsidi’ hari tua. Akan tetapi juga diberi gaji tinggi sesuai dengan kerja dan prestasi.

Alasannya, apalagi kalau bukan faktor kerja. Kalau seperti ini, kenapa mereka harus pula mendapat banyak uang terima kasih. Kalau ada yang tak setuju, langkahi dulu mayat, eh pendapat Polem Ali.

Polem Reuman pun berasumsi. Kalau pun ada masyarakat yang bikin urusan, juga harus mengeluarkan sedikit pelicin berupa dana administrasi biar urusan lancar. Kalau tidak, ya, Anda tahu sendiri. Tapi, syukurlah, kalau sekarang mulai dihilangkan budaya itu.  

Lantas, jika dibilang mereka sudah bekerja pontang-panting, ini malah betul-betul harus segera diralat. Kalau mau dikalkulasi, dari jam kerja saja, mereka saban hari ’korupsi’ waktu. Mulai dari telat masuk pagi, sampai siang ’apel’ di warung kopi, atau pulang sejenak jemput anak dan balik ke kantor lagi. Kalau dipikir-pikir, hanya berapa jam waktu efektif mereka dalam bekerja. Dengan gaji dan tunjangan, mereka bisa kerja sembarangan.

Ini sudah lama terjadi. Tapi, sepertinya, semua mendiami, bagaikan tak ada yang peduli. Kalau dilihat lebih ’halus’ lagi, Polem Ali merasa rugi. Sebagai warga negara yang baik, dia merasa terzalimi dengan polah seperti itu. Selama ini, pegawai negeri dimanjakan oleh negara, dengan memberi gaji dari uang rakyat.

Karena itu, Polem Ali sudah mencanangkan tak mau bayar pajak kalau kondisinya masih begini. Toh, kalau selama ini pajak sepeda motor dibayar juga, itu biar tidak banyak urusan di jalan-jalan dan lancar dalam segala persoalan.

Dalil Polem Ali dan Reuman kuat. Analisa mereka sedikit tinggi. Negara tidak adil, protes dia. Sejatinya, petani dan nelayan juga harus menikmati uang ’pensiun’ dari negara. Tapi, karena kerjanya petani dan nelayan, maka bentuknya, bisa diatur dengan nama yang lain. Biar tak tersinggung para birokrat.  

Kenapa petani musti dapat jatah ’pensiun’ juga? Dari hasil laporan banyak lembaga, petani dan nelayanlah yang paling banyak menyumbangkan devisa untuk negara. Kelompok ini, termasuk penyumbang devisa negara. Jangan tanya bagaimana cara. Yang jelas dalam konteks Aceh, 6,5 persen pendapat daerah bruto (PDB) disumbangkan sektor perikanan. Sudah pasti ini, kreasi nelayan dan petambak juga.

Tapi, begitu petani gagal panen, mereka malah gigit jari. Begitu mereka tidak bisa melaut dan ditimpa kemalangan serta perkara lain, nyaris tak ada ’perhatian’ pemerintah. Kalau pun ada, itu hanya alakadarnya saja.

Bagaimana dengan petani? Mereka juga punya kontribusi besar untuk negara. Tidak sedikit komoditi pertanian yang diekspor, mulai dari cengkeh, pala dan sebagainya ---maaf tidak termasuk ganja---, sudah ikut menghidupi negara. Sayangnya, petani dan nelayan tak pernah hidup sejahtera.   

Padalah Polem Ali dan Reuman tahu, jika di Amerika Serikat sana, bila petaninya gagal panen dan merugi pasti akan disubsidi pemerintahnya. Tapi, itu tak terjadi di sini. Jangan kan berharap pupuk murah, yang sudah bersubsidi pun langka.

Kedua polem ini sepakat, sebagai negara agraris, pola pikir pemerintah harus diubah. Perhatian untuk petani, tidak cukup sebatas membangun irigasi. Jika mereka gagal panen, setidaknya adalah sedikti ’komisi’ dari negara, agar mereka bisa memperpanjang nafas, dan tak rugi total. Jaminan itu, sangat setimpal, jika mengingat apa yang sudah diberikan petani selama ini.

Kata Polem Ali, pegawai negeri, petani dan nelayan sudah saatnya, sama-sama mendapat ’pensiunan’ dari negara. Jika yang satu bekerja pada posisi administrasi, tapi petani, nelayan dan yang lainnya menyokong demi makmur dan sejahteranya negara ini. Ah, ini hanya kakofoni alias suara sumbang, Polem Ali saja, kata Polem Reuman. Entahlah!.


Dimuat Harian Aceh, Jumat (2/10/2009)

Firasat

Ilustrasi hujan via porosjakarta.com

HUJAN turun rinai di Negeri Lamlaman Mimpi. Aneh, saya malah tidak merasa tetesan air langit. Memang, saya bukan sendiri yang tidak basah. Tiga galah di depan, saya melihat ada pejabat tinggi dan isteri, juga sama. Tidak kuyup.

Meski rintik, tapi malah air datang bergulung-gulung menuju sungai. Detik itu, rakyat jelata yang berada di sungai itu justru kelimpungan merakit asa, agar bisa keluar dari dera air bah yang sedang menderu negeri Lamlumpoe, begitu warga setempat menyebutnya.  

Keanehan lainnya. sejak dari ujung jalan, airnya malah mengalir bukan ke jalur sebenarnya.
Namun dia menggali jalur baru. Sebuah sungai besar terbelah dua. Praktis saya berada di antara keduanya. Tapi di dataran yang sedikit lebih tinggi.

Sebelah kanan, dua pejabat tadi melintas. Pertama, seorang perempuan berbaju kuning plus kerudung model terkini. Dia memegang kipas di saat orang lain masih dibasuh hujan. Di sampingnya seorang lelaki tidak terlalu tinggi. Dia tak bersafari. Tapi mengenakan kemeja kerah putih.

Pasangan suami istri ini mirip dengan salah satu kandidat pada pemilihan presiden di negeri tetangga. Saya berpikir, mungkin mereka sedang menebar empati untuk menarik dukungan dari rakyat negeri Lamlumpoe. Ah tak mungkin. Sebab warga di sini tak berhak mencontreng di negeri tetangga.

Lantas, keduanya menurun ke jalur kanan, di mana sungai besar berada. Di dasarnya banyak orang sedang berupaya menyelamatkan diri, dari banjir yang hendak menerjang. Dari kejauhan, saya melihat gelombang air yang tidak begitu besar. Tapi bisa menghanyutkan.  

Air itu bergulung-gulung. Ada teriakan untuk menghindar, agar tidak terseret ulee ie (air pertama). Dalam keyakinan warga setempat, ulee ie ini bisa berbahaya, karena kekuatan ‘lari’ bin terjangnya sulit diterka. Tapi sudah terbukti, tak ada yang selamat dari gerusan ulee ie.

Tapi yang anehnya, lee ie itu malah meluncur ke sungai di samping kiri. Bukan ke tempat penduduk negeri mimpi yang sedang beraktifitas di sungai besar. Pun begitu tetap saja membuat warga berlarian. Panik.  

Melihat itu, saya berteriak. Sayang, suara itu bagai dibawa angin. Para penduduk tetap berupaya  menyelamatkan selembar nyawa. Dengan susah payah mereka berusaha menghindari terjangan air bah pertama. Ya ulee ie itu tadi.

Lagi-lagi aneh. Air itu tetap tak menerjang deras ke sungai di mana masyarakat sedang berusaha kabur. Sangat kontras dengan di sisi kiri. Kendati lajunya kencang, tapi tak sampai merusak sepotong bangunan yang berdiri di sisinya, serta benda-benda lain.  

Di sekitar itu, malahan terlihat dua pria tegap duduk enteng di tepi sungai. Orang pertama menjulur kaki. Temannya lebih santai lagi. Dia menekuk kaki kanan sejajar bahu, sedangkan kaki kiri tetap terjulur. Jika badannya membungkung, sekilas akan terlihat seperti orang start dalam lomba lari.

Aneh. Saat itu saya sudah berdiri di dalam genangan air. Posisinya di ruas ulee ie tadi melintas, tapi saya tidak basah. Sejurus saya menyoroti dua pria kekar. Mereka terlibat dalam obrolan panjang, seakan tak peduli kemunculan saya.

Seakan di situ hanya mereka berdua. Tanpa orang lain. Sial, saya tak kuasa menangkap isi obrolan itu. Suara mereka seakan menembus angin.

Lalu, keduanya menoleh, melihat ke arah sebuah bangunan. Pintu yang terlihat gelap itu berderit. Seseorang muncul di depan pintu. Seketika keduanya bangkit. Terlihat sesuatu tersembul dibalik baju sekitar pinggang keduanya. Seperti bentuk senjata, tapi tak terlihat. Saya bisa menerka benda apa yang sembunyi dibalik kemeja pria cepak itu.

“Ah, aparat Lamlaman Mimpi,” saya membatin.  Awalnya, saya berpikir mereka sedang dinas.

Dan pria yang muncul itu tak lain atasannya. Di negeri tetangga, keduanya biasa dikenal ajudan dan petugas pengamanan. Di depan pintu, tiba-tiba muncul seseorang. Ah, rasanya saya kenal betul pria ini.

Dia orang nomor dua di Negeri Lamlaman Mimpi. Hari itu dia bersafari, tak ketinggalan dasi. Safari warna abu-abu diselingi les-les kuning dengan motif menarik. Dasi terlihat tak begitu biru. Tapi, bentuk wajah, dan rambutnya yang sudah polos di seputar kening.

Pria itu akrab di mata saya. Hidungnya yang tidak mancung tapi tak juga bangir. Melihat itu, makin menguatkan ingatan saya. Namun, kenapa pula mimiknya lain. Dia seperti meringis ketakutan. Seketika tubuhnya bersandar di dinding. Di susul kepalanya yang langsung miring. Lemas.

Kedua tangannya, cepat-cepat disodorkan ke depan, seperti orang hendak diborgol. Sekejap saja, dua pria tegap tadi merogoh sesuatu di saku depan. Benar saja, seketika itu juga, tangannya sudah diborgol. Kenapa pria itu digari? Apa salahnya, kenapa di depan umum begini?

Dengan reflek, saya muncul di depan mereka. Secepat itu pula mereka lari. Belum sempat saya kejar. Muncul sebuah ingatan. Sepertinya, kasus seperti ini, pernah juga menimpa mantan orang nomor satu di Lamlumpoe. Kini dia menjalani hukuman dalam kerangkeng, di sebuah negeri nan jauh di sana.

Apa balada itu, terulang lagi di Lamlumpoe? Apa yang bisa kulakukan?
”Jangan permalukan dia depan rakyatnya, kalau mau tangkap di seberang saja,” teriak saya.   

Pria yang ku kenal itu, juga sepakat. Begitu pula dengan dua pria yang sejak awal saya kira para pengawal. Mereka pun setuju usulan itu. Dengan membiarkan kedua tangannya lepas, dia berlari kecil ke arah gelap yang sedikit ditutupi semak.

Di tempat yang sedikit aman, kedua aparat Negeri Lamlaman Mimpi menjalankan tugas. Kedua tangan si pejabat tadi kembali digari. Belum kelar, tiba-tiba muncul segerombolan pria. Mereka membawa tameng, pentungan dan senjata lain, Dari sikap jelas hendak menghadang kami.

Saya berpikir, mungkin pria-pria menyangka kami menangkap pimpinan mereka. Sepanjang dua lembing di depan mereka berposisi siaga, siap menyerang. Pria yang mengamankan pejabat bersafari itu lebih siap lagi. Senjata diacungkan ke udara.  Tuss...tuss...tuss...

Tiba-tiba ada yang meletus. Ups, kacau. Saya harus menyelamatkan diri. Langsung saja tiarap dalam parit. Basah dan anyir tak peduli lagi. Tapi anehnya, malah air itu bening, tidak berlumpur dan bau parit.

Kawanan pria itu juga merangsek maju, hendak merampas ’tahanan’ di tangan pria tegap tadi. Tapi sempat berpikir jauh dan apa yang terjadi, tiba-tiba saya merasa air dalam parit makin penuh. Jika saya keluar, alamat cari mati. Minimal terserempat peluru.

Mengingat itu, terus saja saya membenamkan tubuh di dasar parit. Makin lama membuat saya sulit bernafas. Nyaris putus urat leher menahan nafas. Karena tak ingin kelelepan alias buhuek, saya langsung keluar dari parit. 

Tapi sayang, saya tak melihat apapun lagi di negeri Lamlumpoe. Tidak ada siapa-siapa lagi. Semuanya seakan hilang bagai disapu gelombang air tadi. []

One Child One Tree

Ilustrasi
SUHU bumi belakangan ini kian ekstrem saja. Sulit memprediksi kapan cuaca panas dan dingin berbagi tempat. Musim kemarau kacau balau, belum lagi musim hujan yang terkadang di luar perkiraan. Mungkin ini pertanda bumi sudah mulai bosan pada ulah manusia.

Kondisi yang tak bersahabat ini, bukan saja membuat sesak orang dewasa, para bayi baru lahir juga lebih tersiksa lagi. Karena itu, ada sebuah warkah saya persembahkan kepada para bayi yang lahir suci. Dengan asa agar pesan beraroma petuah bisa membentengi hati mereka.

Marhaban para buah hati. Inilah dunia. Jangan bersedih bila di sini cuaca tak menentu. Suhu bumi juga selalu aneh saban waktu. Kadangkala cuaca dingin selepas hujan, lain kali malah panas sekali. Atau bahkan dalam waktu tertentu bisa saja terjadi berbarengan.

Suhu udara yang tak menentu, sudah lazim di sini. Karena memang bumi tak lagi muda. Usia dunia sudah renta. Karena itu, cuaca panas dan dingin bisa merambat seketika, seperti kamu buang air saja. Kata orang itu akibat global warming. Bahasa lain dari pemanasan global.

Itu terjadi bukan akibat kelahiranmu.  Makanya jangan bersedih, mungkin itu sudah hukum alam. Memang, saat kamu lahir, sebatang rokok kemudian, hujan turun mengguyur kepenatan.
Sejuk dan dingin bergantian. Besoknya, cuaca berubah lagi. Panas. Dan kamu menangis.

Kamu juga sudah merasa, bumi ini memang sangat panas. Panas juga dengan segala urusan, termasuk urusan politik yang selalu bikin kondisi daerah pelik. Tapi, kamu lupakan saja urusan kekuasaan dengan ragam kepentingan.  Urusan kita adalah bagaimana meniti hidup sesuai tuntunan Ilahi.

Karena itu, kamu jangan takut kelaparan. Sebab di negeri ini seperti kata Koes Plus--kayu dan batu jadi tanaman. Terbukti, hasil bumi melimpah ruah, meski penduduknya hidup susah. Kamu hidup di negeri bahari, banyak ikan di laut sana, walau adakalanya, harga setinggi puncak Seulawah. 

Bukan hanya di laut, di darat pun sungguh dahsyat.  Sebagai daerah agriaris, negeri ini cukup pangan untuk menghidupi penduduknya. Tapi kamu jangan heran, bila beras pun harus diimpor dari Vietnam dan Thailand. Sebab sawah dan ladang di sini tidak lagi hijau dengan padi dan palawija. Semua sudah berganti dengan tumbuhan ‘batu-bata’.

Tapi kamu jangan kalut. Untuk menghidupi pendatang baru sepertimu, segala upaya dilakukan para orang tua. Meski kadangkala, ada orang yang khilaf dan terpaksa mencuri demi sesuap nasi serta sekaleng susu.

Pohon Kehidupan

Kondisi bumi yang ‘babak belur’ dengan cuaca makin tak teratur, sebenarnya bisa teratasi bila semua orang bersahabat dengan alam. Oleh sebab itu, satu pesan saya, bila kamu sudah tumbuh dewasa, jangan merusak hutan dan jangan pula mencemari lingkungan dengan segala hal.

Untuk bekal hidupmu kelak, saya hanya bisa mewarisimu dengan lima batang pohon. Pohon itu kami tanam sehari setelah kamu lahir. Semoga saja ini menjadi tradisi bagi para orang tua di kemudian hari. Setiap menyambut kelahiran anak (bayi), minimal ada satu batang pohon yang tumbuh  bersemi.

Kenapa pohon? Itulah pohon kehidupan. Bila kamu kepanasan, bisa berteduh di bawah cabang yang rindang. Selain pohon yang mampu membuat rumahmu rindang, ada pula pohon-pohon lain yang semuanya bermanfaat bagi kehidupan.

Kecuali bisa menyerap karbondioksida, dia juga memberi banyak guna untuk kehidupanmu kelak. Seiring dengan pertumbuhan usiamu, kamu akan bisa merasakan manfaatnya tatkala mulai beranjak dewasa.

Tapi kamu jangan lupa menyiram dan memberi pupuk agar dia tak mati dan lapuk. Harus kamu sirami saban hari dan merawat sepenuh hati. Jangan seperti orang-orang yang hanya menanam pohon, saat ada untungnya saja dalam banyak acara seremoni.

Contohnya, saat mendapat proyek penanaman seribu pohon. Program itu sebenarnya bagus, tapi sayang dia tidak berkesinambungan. Bahkan terkadang tak pernah disiram, sehingga mati kepanasan. Kalau hujanlah, pohon-pohon itu bisa ‘mandi’ dengan riang, selebihnya wallahualam.

Kamu jangan mencontohi mereka, yang cuma menjual isu penghijauan demi beraneka kepentingan. Padahal kita butuh ketulusan serta sebukit pengorbanan demi menghijaukan kembali bumi kita yang kadung gersang.

Untuk lima batang pohon yang kami tanam, jangan kamu khawatirkan. Sebab untuk merawat dia tak menunggu turun hujan. Pagi dan sore dia selalu kami sirami. Juga kami taburi dengan pupuk kasih sayang seperti banyak orang tua menyayangi sepenuh hati anaknya.

Karena itu, kamu jangan melihat lima batang pohon itu cuma sebagai usaha mainan. Sebab dibalik itu, lima pohon tersebut juga sebagai pertanda. Ya, itulah symbol kehidupan yang jangan kamu lupakan sepanjang hidup.

Ada lima perkara yang wajib kamu anuti, sebagai bekal hidupmu dikemudian hari. Lima perkara itu tinggal kamu ingat saja, bahwa rukun Islam ada lima perkara. Agama kita juga menganjarkan umatnya sebagai khalifah di muka bumi untuk menjaga alam dan tak membuat kemungkaran, termasuk mungkar terhadap lat batat kaye batee.

Pesan endatu ini harus kamu turuti meski dalam berbagai kondisi. Jangan sekali-kali kamu ingkari. Sebab merawat alam dan menjaga lingkungan juga bermaafkan bagi kamu dan kehidupanmu di masa mendatang.

Semoga kamu tak pernah ragu dengan pesan itu. Yakinlah, waktu yang akan membungkus pesan ini untuk kamu pahami di kemudian hari. Jika ini benar, kamu sebarkan kepada semua orang, agar setiap satu bayi yang lahir menaman sebatang pohon. Barangkali dengan slogan one child one tree, belasan tahun kemudian bumi akan hijau.
Bayangkan saja, jika setiap keluarga yang berbunga-bunga menyambut kelahiran bayinya, lalu menanam sebatang pohon. Tentu hutan akan rindang, bumi tak lagi gersang, hidupmu pun tak selalu kepanasan. Ya, hitung-hitung berbakti kepada alam untuk menembus dosa para kakek dan nenek kita yang barangkali dulu juga ikut menebang sembarangan.  

Mulai sekarang, kamu jangan menyesali terlahir di bumi ini,  kendati suhu sudah tak menentu. Walau sawah sering kering kerontang dan ladang terus gersang. Meski hutan ditebang berganti tambang, tapi, masih ada sebungkus asa, kamu jangan turuti cara ‘gila’ mereka merusak alam.

Selama langit masih biru, dan laut terus bergelombang, selama itu pula kamu bisa hidup tanpa harus mengeruk isi bumi.  Meski masih ada sedikit sisa hutan buat kehidupan, itu wajib terus di jaga dengan segala daya, agar suatu saat hidupmu sejahtera. [a]

Menonton Aceh

Foto atjehfootball.blogspot.com
UJUNG pekan kemarin, pecinta sepak bola di Aceh, khususnya Banda Aceh mendapat suguhan hiburan menarik dari lapangan hijau. Ada dua kompetisi berbeda yang mentas di Stadion Harapan Bangsa dan satu kompetisi kasta kedua di Stadion H Dimurthala.

Kedua kompetisi itu adalah Liga Prima Indonesia (Indonesian Premier League) dan Liga Super Indonesia (Indonesian Super League). Di IPL, Persiraja Banda Aceh tampil menghadang Bontang FC di Jumat (16/12/2011) dan pada Minggu (18/12/2011) tim Divisi Utama PSSB Bireuen tampil melawan PSBL Langsa di Stadion H Dimurthala.

Sejatinya ada satu laga yang dihelat pada Stadion Harapan Bangsa yakni antara PSAP Sigli dengan PSMS Medan pada Sabtu (17/12/2011). Tapi sayangnya, laga big macth antara Sigli dan Medan dibatalkan oleh PT Liga Indonesia sebagai penyelenggara kompetisi. Dan, keduanya akan melakoni laga tunda pada Februari mendatang.

Praktis, ketiga laga ini akan memanjakan publik sepakbola yang selama ini memang menggandrungi permainan 90 menit itu. Khusus di kancah Divisi Utama, kubu Bate Kureng—julukan PSSB bermaterikan pemain belia Aceh hasil didikan tiga tahun di Paraguay.

Tentu saja pertandingan ini akan menyedot perhatian banyak orang. Jika tak sempat melihat langsung, tentu berharap informasi dari orang yang berada di tribun. Atau bahkan berharap kabar dari radio, membaca media online serta media cetak pada esok harinya.  

Sajian infomasi sepak bola tentu akan menjadi santapan favorit banyak pembaca media cetak, terutama di Aceh. Bicara sepak bola, semua orang seakan menjadi lebih jago dari pengamat dan lebih lihai dalam peracik stategi di pinggir lapangan. Ini memang lazim terjadi di belahan dunia, termasuk Aceh.

Mungkin dalam konteks Aceh ada sedikit catatan. Menyinggung masalah ini, saya mengutip ungkapan mantan Gubernur Aceh almarhum Ibrahim Hasan. Katanya, “kalau ingin tahu bagaimana karakter orang Aceh, lihatlah saat mereka main (menonton) bola dan seudati”.

Sedikit tambahan, khusus untuk kata yang dalam tanda kurung bukan disebutkan mantan Menteri Negara Urusan Pangan itu. Sebab, menonton itulah yang kini menjadi menarik. Bisa kita lihat, sekarang orang banyak menonton dan tak lagi main seudati.  

Main bola dan seudati memang dua permainan yang berbeda. Namun, pesan yang hendak disampaikan Ibrahim Hasan tak lain bahwa, saat bermain bola, orang Aceh itu keras dan pantang menyerah.

Lantas kenapa tamsilan lewat Seudati? Tari Seudati, sebuah tarian khas Aceh yang sudah dikenal sejak masa raja-raja. Tarian ini berbeda dengan yang lain, sebab gerakannya berupa loncatan, gerak tangan, petik jari (keutep jaroe) dan menepuk dada dengan iringan pantun atau syair.
 
Gerakan keutep jaroe dan menepuk dada dipahami sebagai simbol kekuatan dan kesombongan sebagai lelaki. Atas alasan itulah barangkali Ibrahim Hasan melempar interpretasi lewat bola dan seudati. Karena pada dasarnya, bola dan seudati adalah dua objek yang paling digemari di Aceh. Dari dulu hingga kini.
Lalu, kenapa menonton bukan bermain? Bermain (playing) dan menonton adalah dua kata yang berbeda. Jika bermain bisa berdenotasi aktif, maka sebaliknya, menonton pun tak selamanya pasif. Sejatinya penonton (supporter) itu tak harus terlalu hiperaktif. Cuma pendukung yang saya pikir sedikit akan lebih agresif.
Dalam konteks ini sudah jelas beda kelas antara penonton dan pendukung, apalagai dalam Koloseum —stadion zaman Romawi kuno— sepakbola Aceh. Koloseum sepakbola kita biasa diiringi dengan lempar pukulan antar pemain, saling terjang bak film kungfu dan lainnya.
Kasus ‘pembunuhan’ mental pemain muda Aceh jebolah Paraguay pada Minggu 12 November 2011 kemarin adalah contoh buruk koloseum sepakbola kita. Uji mental agar karakter Aceh kuat dalam bertanding sah-sah saja. Tapi bukan dengan lemparan botol, sebab itu tak ‘mendidik’ dan manusiawi.
Kendati pelemparan botol air mineral, dianggap sah-sah saja oleh sebagian kalangan. Tapi menjadi tak lazim jika dilihat dari objek yang menjadi sasaran. Aksi purba itu sebenarnya bukan cuma diterima para pemain muda Aceh. Mereka yang berkompetisi di level senior seperti di Persiraja, PSAP, PSSB dan tim-tim lainnya, sudah biasa menjadi sasaran nan empuk. Meski itu berbeda kasus dan tendensius.
            ‘Teror’ botol seumpama insiden Harapan Bangsa di ujung pekan itu, bisa saja merusak mental pemain yang belum terbiasa dan tampil kompetitif. Harapan agar mereka bisa langsung terbang tinggi, sesuatu yang mustahil. Pemain senior saja bisa gugup juga  saat melakoni laga perdana, konon lagi disaksikan puluhan ribu penonton.
Apalagi jika ditambah dengan fisik yang masih lelah. Maka, melawan kelelahan saja sudah menguras stamina. Konon lagi ditimpuki dengan botol dan hujatan yang tak mendidik serta di luar kepatutan bin kesantunan.
Pada kategori ini, saya makin menguatkan tafsir, bahwa sepakbola Aceh butuh pendukung—terutama pendukung fanatik—bukan penonton. Selama ini banyak penonton, tapi sedikit pendukung. Sehingga fanatismenya cuma setipis karcis.
Ini terbukti siapa yang bermain apik dia yang ‘ditarik’ (baca: dielu-elukan), mereka yang ‘berani’ tampil jelek, maka siap-siaplah diejek. Dan menjadi Aceh, eh aneh maksud saya, ketika lemparan botol bisa berubah menjadi ‘lemparan’ tepukan, saat tim yang sebelumnya dibenci memberi kemenangan.
Ini adalah sebuah sikap yang egois sekaligus sulit dipahami. Sebab dalam sepakbola, hasil akhir tak selamanya sesuai dengan prediksi. Tim yang bermain bagus, terkadang harus menelan kekalahan. Kalah dan menang memang harus diterima dengan akal sehat. 

Penonton yang baik adalah pendukung yang akan tetap setia memberikan dukungan diberbagai kondisi tim yang mereka sokong. Kekalahan tidak membuat para pendukung menghujat berbagai kesalahan mereka di lapangan hijau. Pendukung seperti inilah yang diharapkan mampu membangkitkan semangat tim yang telah melemah akibat dampak tekanan mental kekalahan. Di sinilah fungsi pemain ke-12 dalam sebuah koloseum.
Namun yang dipahami penonton di Banda Aceh, yang menjadi representasi Aceh, sebaliknya. Siap menang tak terima kalah. Semua kita tahu, tak ada klub (tim) di dunia ini yang selalu menuai kemenangan tanpa menelan kekalahan.
Akan lain lagi bagi pendukung sejati. Dia senantiasa siap dalam berbagai kondisi. Kalah memang patut disesali demi perbaikan, menang patut disyukuri. Bukannya, kalah dicaki maki, menang dipuja-puji. Dan itu yang terjadi selama ini. Hanya saat menang baru kemudian muncul banyak sanjungan dan ungkapan narsisme; jih aneuk kumuen lon (dia keponakanku), yang peulob nyan aneuk cek lon (yang cetak gol itu anak pamanku) dan lain-lain. Kala kalah penonton pun menjadi apatis. Sebuah sikap yang jauh dari kata sportif. 

Olahraga populer
Semua orang akan sepakat mengamini, sepakbola adalah olahraga paling digemari penduduk bumi. Begitu pula di Aceh. Sepakbola menjadi icon dan digandrungi mulai dari balita sampai yang sudah berusia senja. Mungkin atas dasar itulah, sehingga hampir semua pemimpin Aceh (baca: gubernur) ikut ‘melestarikan’ dan memberi dukungan kepada permainan 90 menit ini.
Sejumlah gubernur di Aceh pada masa pemerintahannya berandil besar dalam sepakbola, meski kadarnya berbeda-beda. Yang paling monumental tentu saja sosok Syamsuddin Mahmud. Pakar moneter inilah yang menghadirkan sebuah stadion kebanggaan bagi rakyat Aceh.
Di masa inilah, dia mencetus sebuah stadion termegah. Itulah Stadion Harapan Bangsa, milik Pemerintah Aceh.  Meski pada akhirnya stadion plat merah ini diplesetkan sebagai stadion tak sesuai harapan. Disebut begitu, karena penontonnya kepanasan saat matahari terik dan kebasahan kala hujan. Tribun megah cuma menjadi pajangan semata. 
Bicara stadion, tentu saja banyak pro kontra mengemuka, termasuk tribun-tribunnya yang acap dirutuki sepanjang waktu. Kendati stadion itu tak seusai harapan, setidaknya masih memberi sedikit kebanggaan, kendati itu semu; megah tapi bikin gerah.
Lalu gubernur sekarang, Irwandi Yusuf juga mengikuti jejak senior-seniornya. Dia tidak menyentuh fisik, tapi pengembangan sumber daya manusianya. Dan yang teranyar tentu saja program belajar sepakbola ke Paraguay. Ke 30 atlet muda sudah selesai belajar tiga tahun di Negara Amerika Selatan itu.
Program ini disambut pro kontra banyak kalangan. Dan itu sudah semacam kerupuk saat kita makan mi. Lalu muncul asumsi lain dengan kecurigaan bertensi tinggi. Makanya tak heran, jika kemudian mencelat tanya, mengapa mesti mengirim tim ke Paraguay, kenapa tidak pelatih asing saja yang diboyong ke Aceh.
Belum usai itu, muncul lagi pertanyaan lain. Kali ini seputar materi pemain yang dikirim.  Selalu saja ada sinyal miris yang menuding. Di antara 30 pemain yang dikirim ke Paraguay itu, ada pemain ‘titipan’ milik oknum pejabat. Dan banyak lagi aura negatif yang kalau diulas seakan tak pernah habis.
Kemudian, ada lagi yang membisik aroma korupsi dan kolusi. Apalagi program Paraguay itu menguras anggaran rakyat.  Ada yang menyebutkan Rp27 Miliar, ada pula yang mengaku Rp 33 Miliar. Saya tak ingin berprangka sebelum semua terbukti, apalagi amisnya belum tercium. 
Terlepas dari ‘bau-bauan’, harapan sukses yang dituntut masyarakat kepada alumni Paraguay juga—sebenarnya— kelewat tinggi. Padahal prestasi itu tidak datang instan (seketika) semisal memungut bola keluar lapangan. Sebagai contoh, untuk menjadi juara perserikatan pada 1981, Persiraja butuh waktu lama. Katanya sembilan tahun. Itu pun dengan tim yang aktif terjun diberbagai turnamen dan kompetisi.
Contoh lain, kita lihat saja Spanyol. Negeri Matador ini harus menanti 44 tahun untuk kembali menjadi Juara Eropa dan kemudian menguasai dunia. Makanya menjadi aneh ketika publik langsung menuntut prestasi tinggi kepada para pemain belia yang masih berusia 18 tahun.
Memang kita akui, sepakbola Aceh sudah lama kering prestasi di berbagai level. Hanya musim lalu, dahaga itu sedikit terobati setelah Persiraja Banda Aceh menjadi runner-up Divisi Utama Liga Indonesia. Itu pun gengsinya dinilai kurang dahsyat, karena berada di kompetisi level kedua.
Sementara tuntutan para penonton dan pendukung, baik di Harapan Bangsa maupun di Stadion H Dimurthala, lebih dari itu. Tak masalah, kita terus ‘berteriak’ dengan keras berharap prestasi sepakbola Aceh. Tapi jangan hanya sekali keutep jaroe.

Penulis adalah Sekretaris Warta FC Banda Aceh 

Rabu, 14 Oktober 2015

Bireuen, "Ibu Kota" Sepak Bola di Aceh

Ilustrasi
SUDAH lama daerah ini selalu "menggoda" pikiran. Makanya, saya ingin sekali "melukis" Bireuen dalam nuansa yang berbeda. Bukan lewat kanvas, tapi pasti melalui untaian aksara. Bila dia berbentuk tulisan, pasti akan mengurai ribuan kata. Jika jatuh pada bait-bait puisi, tentu akan renyah sekali.

Makanya, saya ingin menulis Bireuen dengan nuansa yang berbeda. Semua orang tahu, Bireuen punya jejak sejarah yang mendalam pada tubuh perjuangan Indonesia. Ini tentu saja menjadi "aura" tersendiri  bagi masyarakatnya, sehingga tak mengherankan bila bekas ibu kota RI yang ketiga ini dijuluki Kota Juang.

Meski cuma selama seminggu, setelah Yogyakarta jatuh ke tangan penjajah dalam agresi Belanda-- Bireuen tetap menjadi daerah mengharumkan bagi Aceh khususnya. Ya, dari satu sisi dia mewangi hingga kini, meski Bireuen pada segi yang lain, dia seperti "dilupakan" oleh Republik Indonesia.

"Dilupakan" oleh Republik? Ya, sejatinya, pemerintah melalui departemen tertentu memberi perhatian lebih kepada daerah-daerah yang sudah berjasa bagi menjaga eksistensi Indonesia di era perjuangan dulu. Daerah yang pernah menjadi ibukota, sejatinya mendapat tempat terhormat.

Untuk mendapat tempat terhormat itu, bisa melalui "promosi" sejarahnya. Bisa pula dalam upaya melestarikan sejarah itu, Pemerintah Pusat melalui lembaga terkait memberi "bonus" dalam bentuk anggaran untuk menjaga agar jejaknya tidak punah.

Karena sudah pasti, sejarah tak bisa diubah. Pejuang yang masih hidup, pasti ingat bahwa Bireuen adalah ibukota ketiga, meski jejak sejarahnya tidak begitu harum semerbak. Selain tugu atau monumen, saya pikir penulis sejarah masih "ogah" menulis Bireuen sebagai bekas Ibu kota. Ini yang saya maksud tak adanya perhatian dari negara.

Meski "diabaikan" oleh Pemerintah Pusat dari segi pengakuan di buku sejarah, tapi saya pikir Bireuen yang ada sekarang, tetap mengharumkan Aceh dan benar-benar menjadi kota juang bagi warganya. "Perjuangan" yang dilakoni masyarakat Bireuen tentu bukan lewat peperangan, tapi lewat lapangan.

Lapangan? Ya, tak ragu lagi saya menyebutkan, bahwa lapangan yang saya maksud tak lain lapangan hijau. Lewat lapangan hijau, warga Bireuen, benar-benar mengharumkan Aceh seperti saya sebutkan tadi. Lewat lapangan rumput itulah pula, warga Bireuen berjuang untuk membela negara yang bernama Indonesia.

Memang, perjuangan itu tak dilakukan lewat meja bundar, tapi melalui si kulit bundar. Sekilas, kedunya seakan tak punya benang merah. Namun, bila diresapi dengan nurani, kita akan mengaku dan merasa, bahwa keduanya saling menyatu; bersatu membela Indonesia.

Jika zaman pergolakan, membela agar Indonesia cepat merdeka dan Bireuen "rela" menjadi Ibu kota negara. Maka di era sekarang, perjuangannya adalah membela Merah Putih agar disegani negara luar di bidang olahraga; khususnya sepakbola. Sebab, hiruk-pikuk sepakbola lebih terasa ketimbang olahraga lainnya.

Makanya, tak mengherankan, bila olahraga yang paling populer di kolong jagat ini menjadi semacam magnet bagi setiap negara untuk dapat mengukir prestasi. Mulai dari kompetisi regional, hingga tingkat dunia di World Cup atau Piala Dunia. Banyak negara berlomba-lomba agar bisa merekuhnya.

"Ibu Kota" Sepak Bola
Beranjak dari kondisi itulah, saya melihat, ternyata Bireuen menjadi "ibu kota" sepakbola di Aceh. Mungkin semua kita tidak "sadar" dengan julukan baru itu. Namun, bila merujuk pada fakta-fakta yang ada kita akan tercengang dan mengangguk kepala guna mengamininya.

Torehan prestasi mengagumkan itu, dimulai Bireuen saat Liga Pendidikan Indonesia tahun pembinaan 2010/2011 tingkat Provinsi Aceh. Prestasinya adalah, seluruh juara diraih oleh kontestan dari kabupaten Bireuen. Untuk tingkat perguruan tinggi, ada Universitas Al Muslim Bireuen yang juara setelah mengalahkan Universitas Syiah Kuala Banda Aceh.

Pada kategori di bawahnya, SMAN 1 Bireuen menghempaskan SMAN 9 Banda Aceh di final. Sedangkan SMPN 1 Bireuen menundukkan SMPN 5 Lhokseumawe untuk merebut gelar yang terbaik. Selesai? Belum. Untuk lebih Sekolah Dasar, SSB Putra Banna juga pernah meraih juara kedua nasional pada ajang Piala Danone Nations Cup 2011 di Jakarta. Lengkap sudah.

Melihat ini, saya sempat berseloroh kepada sejumlah tokoh Bireuen di Banda Aceh. Seandainya di Aceh atau Indonesia punya kompetisi untuk level Taman Kanak-kanak atau TK, mungkin Bireuen juga bakal menjadi juara. Tentu saja, guyon saya disambut senyum gembira plus bangga mereka.

Menyimak ini, salah satu tokoh Bireuen, yang juga mantan Sekretaris Dinas Pendidikan Aceh Drs Zulkifli S Namploh, pernah berujar; "Saya rasa Bireuen sangat pantas dijuluki sebagai Kota Bola, karena prestasi yang diraih anak-anak SD sampai perguruan tinggi di ajang Liga Pendidikan Indonesia Tingkat Provinsi Aceh," katanya ketika itu.

Setelah itu, sensasi Bireuen sebagai sentra sepak bola belum berhenti. Ada sederet pemain yang terus "berjuang" mengharumkan Bireuen dan Aceh pada umumnya. Tentu, kita tak pernah lupa dengan sosok Zulfiandi. Gelandang Tim Nasional U-19. Lalu, ada Syakir Sulaiman, juga gelandang yang tampil membela Timnas U-23 di Asian Games 2014 baru-baru ini.

Ada juga bek Persija Jakarta Syahrizal Syahbuddin. Pemain didikan Paraguay ini juga mengisi posisi di Timnas U-23 saat tampil di SEA Games 2013 Myanmar. Menyumbang tiga nama yang mengisi skuad Timnas dari berbagai level adalah sebuah prestasi amat luar biasa.

Ini adalah sumbangsih terbesar Bireuen untuk Indonesia, terutama tim sepakbolanya. Dan boleh di bilang, --barangkali tak ada kabupaten lain di Indonesia yang punya kontribusi sebesar itu untuk negara. Besarannya, saya kira tak jauh beda saat Bireuen dulu menjadi Ibu Kota RI ketiga di era perjuangan dulu.

Kini, ketiga putra Bireuen itu juga sudah berjuang untuk Indonesia di lapangan hijau. Mereka rela keluar keringat darah demi membanggakan Indonesia umumnya dan Bireuen, Aceh khususnya. Sudah habis? Ops..., ternyata belum.

Masih ada lagi "pejuang" sepakbola dari Bireuen yang mengikuti jejak seniornya di Timnas U-19 dan U-23. Saat ini, lagi-lagi ada pemain asal Bireuen juga sedang berjuang untuk menjadi salah satu pilar di timnas U-17.  Namanya adalah TM Ichsan. Pemain yang mencuat lewat Liga Pendidikan Indonesia ini sempat berguru ke Madrid, Spanyol dua tahun lalu.

Lalu, putra-putra Bireuen lainnya juga pernah dipanggil PSSI Pusat untuk mengikuti seleksi Timnas Indonesia U-17 di Bandung, Jawa Barat, pada 8-16 Desember 2013 lalu. Kelima siswa asal Kota Juang itu merupakan pilar terbaik SMAN 1 Bireuen.

Kelima pemain itu adalah Fajar Maulidan, Ichsan Anarqi, Rian Ramadhan, dan Reza Saputra serta TM Ichsan. Mereka juga para mantan pemain Liga Pendidikan Indonesia (LPI) tingkat SMA tahun 2012-2013 dan tingkat SMP tahun 2011-2012.

Kemudian untuk Timnas U-14, juga ada utusan Bireuen yang lolos seleksi. Sayangnya, di level belia kali ini pemain bola Kota Juang kalah bersaing. Jauh sebelum ini, ada juga Nazrul Fahmi. Pemain mungil yang sempat mengenyam trial di akademi Arsenal di London, Inggris, bersama pemain belia asal Palembang. Siapa dia, putra Bireuen juga.

Di level pengambil kebijakan, Bireuen juga ikut punya prestise yang lain; yakni tampuk pimpinan Asosiasi Persatuan Sepakbola Seluruh Indonesia (PSSI) Provinsi Aceh juga diketuai putra daerah tersebut. Saat ini juga, Kepala Dinas Pemuda dan Olahraga juga dari daerah yang sama.

Maka lengkap sudah keberadaan Bireuen sebagai "ibu kota" sepak bola di Aceh. Hanya saja, sampai sekarang, segala potensi itu belum tergali dan tergarap dengan apik. Pemerintah setempat sepertinya masih memilih menjadi penonton. Mereka baru unjuk diri, saat ada pemain yang berprestasi dan mengharumkan daerahnya.

Menilik data dan fakta di atas, sejatinya olahraga ini menjadi salah satu "program" unggulan di Bireuen. Jadikan sepak bola sebagai ikon. Ikon di sini dalam arti mendapat prioritas pembinaan, sehingga terkelola dengan baik. Dan, kemudian, kita tak perlu lagi mendengar cerita pilu pemain yang sudah sukses tapi sebelumnya tak mampu beli sepatu.

Pada momentum Ulang Tahun Bireuen yang ke-15 ini, tentu kita berharap, akan terbersit sebuah harapan besar pada pengembangan sumber daya masyarakatnya lewat sepak bola. Dengan potensi yang sudah ada ini, kita harus optimis, pada suatu saat nanti, Bireuen bukan cuma "ibu kota" sepak bola bagi Aceh, tapi juga bagi Indonesia. Semoga. [a]

Sabtu, 10 Oktober 2015

Hikayat Bang Dimur

HUJAN mengguyur Lampineung di ujung pekan. Sebuah stadion berdiri angkuh di sana. Lapangan itu cukup punya nama di belantara sepak bola. Stadion H Dimurthala namanya. Dari situlah, nama Aceh bergemuruh menggetarkan jagat raya Indonesia.

Kini, stadion itu sepi, namun syukur belum menjadi tumpukan besi tua. Biasa isinya tetap "panas" meski diguyuri hujan. Sekarang sudah beda, karena tak terdengar teriakan, lantak laju... Kegaduhan seakan hilang ditimpa deru hujan.

Padahal dua bulan lagi, rumput lapangan itu harus hijau kembali. Karena kompetisi Divisi Utama Liga Indonesia sudah menanti. Tepatnya, 19 Februari 2015. Sayangnya, roda Persiraja di kompetisi sudah tak "bergigi" lagi. Seakan kematian sudah menanti.

"Kalau kondisinya begini, sulit menyelamatkan Persiraja," tukas Asri Soelaiman, kepada saya baru-baru ini. Asri adalah bekas pejabat di Dinas Pemuda dan Olahraga Aceh. Dia didapuk sebagai Ketua Umum Persiraja Banda Aceh sejak Agustus lalu.

Asri patut mengeluh. Sebab, selama memegang klub bekas juara Perserikatan era 1980-an ini, dia laksana memegang bara panas. Sebelum dia menerima jabatan itu, tak ada tokoh lain yang berani ambil risiko. Keuangan menjadii halangan besar. "Hana peng --tak ada duit," seru mereka.

Bukan saja tanpa dana, Pemerintah Kota Banda Aceh juga tak berani turun tangan. Padahal mereka masih tercatat sebagai "pemilik" sah. Karena ada aturan yang melarang dana pemerintah dipakai menghidupi klub profesional, maka selamatlah muka Walikota Banda Aceh dari "murka" pecinta bola.

"Dulu, biasanya Pemko memberi dana kepada Persiraja melalui APBD. Tapi sejak adanya larangan dari Menteri Dalam Negeri, mereka jadi tak peduli lagi dengan klub ini," keluh Asri lagi. Anggaran Pendapatan Belanja Daerah atau APBD memang sudah diharamkan.

Larangan itu adalah Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 22 Tahun 2011. Inti dari edaran itu, melarang pemerintah daerah mengucurkan dana untuk klub-klub professional.

Satu-satunya cara menyelamatkan tim dan marwah sepak bola Aceh adalah dengan mencari sponsor. Namun, pihak ketiga tak serta merta bersedia merogok kocek. Banyak pertimbangan yang membuat kran duit tak terbuka.

Padahal dana pihak ketiga sangat diharapkan untuk menghidupi lagi klub dari jurang kematian. Sayang memang, mengingat makhluk bernama sponsor menjadi langka di tanah rencong. Mereka tak punya minat berinvestasi di olahraga.

Pengusaha-pengusaha di Aceh juga memilih jadi penonton saja. "Beda dengan Almarhum Dimurthala. Beliau sangat peduli dengan olahraga terutama sepak bola dan voli," puji Asri.

Mencari pengganti Dimurthala, tak ubahnya laksana menangkap ikan tanpa kail. Asri mengakui sulit mendapati sosok seperti Dimurthala di zaman sekarang. "Saya pikir tak ada tokoh lain yang punya kepedulian seperti Dimurthala," sambungnya.

Namun, Asri mengakui dalam diri Zainuddin Hamid punya hasrat yang sama untuk memajukan olahraga di Aceh. "Let Bugeh itu kawan dekat Dimurthala, keduanya pernah sama-sama membawa tim juara Persiraja," jelas dia.

Let Bugeh adalah panggilan akrab Zainuddin Hamid. Dia mantan Ketua Umum Komite Nasional Olahraga Nasional (KONI) Provinsi Aceh. "Kini Leg Bugeh pun sudah mulai tua, sudah lelah mengurus olahraga."

Kenapa Dimurthala?

Publik Banda Aceh pasti tahu Dimurthala yang namanya disemat pada sebuah stadion kebanggaan Persiraja. Namanya juga menempel di sepotong ruas jalan di Banda Aceh. Tepatnya di jalan menuju kantor KONI Aceh.

Kecuali kedua nama itu, namun, jarang yang tahu sepaktejang mantan pengusaha cengkeh ini. Perannya dalam membangun dunia olahraga di tanah rencong dianggap luar biasa.

"Sejak di tangan dia, sepakbola dan bola voli hidup di tempat kita," komentar Maulisman Hanafiah, mantan Wakil Ketua KONI Aceh periode 2010-2014.

Kata Maulisman, pada era Dimurthala-lah Persiraja Banda Aceh tampil sebagai juara Perserikatan PSSI tahun 1980. Di partai final Persiraja mempercundangi Persipura Jayapura dengan skor 3-1 di Stadion Gelora Bung Karno, Jakarta.

"Beliau manajernya. Saat itu Let Bugeh wakil manajer. Keduanya saling bahu membahu menghidupkan olahraga di Banda Aceh, khususnya," ujar dia menyirat kagum.

Memang, menjadi juara nasional kala itu bukan langkah mudah bagi pilar Aceh. Bustaman dkk harus ditempa dengan berbagai latihan fisik dan taktik. Bahkan, Dimurthala pula yang menjadi manajer pertama Persiraja memakai dana pribadi untuk mengontrak pelatih asing Andrew Yap, yang berasal dari Singapura.

Pemain Laskar Rencong kali itu begitu dimanjakan Dimurthala. Mereka bahkan menjalani latihan di luar negeri. Sesuatu yang jarang dirasakan pemain Persiraja selama ini. "Kualitas jersey yang kami pakai saat itu sama seperti yang dipakai klub-klub Eropa," kenang M Daan, legenda hidup Persiraja.

Pria berpostur besar ini semasa mudanya dikenal punya tendangan super geledek. Dia juga mengaku termasuk pemain "jahil" di antara rekan-rekannya, namun dia sangat disukai manajer, serta seluruh skuad.

Kata M Daan, kebersamaan itulah yang menjadi kunci sehingga mereka bisa berprestasi. "Perhatian manajer (Dimurthala) kepada tim cukup bagus. Dia tak segan-segan merogoh kocek pribadi untuk pemain, terutama mengobati mereka yang sedang sakit," ungkap M Daan.

Pria yang berposisi sebagai gelandang serang saat masih aktif bermain ini mengatakan, dirinya punya kesan mendalam dengan Dimurthala. Kata M Daan, pada suatu ketika dia nyaris membatalkan ikut tim tur ke Sumatera Utara, karena isterinya sedang sakit.

Tahu orang yang dicintai pemainnya sedang sakit, atas inisiatif sendiri, Dimur-- begitu panggilan akrabnya --langsung mendatangi rumah M Daan. Sang isteri pun saat itu juga dibawa ke rumah sakit Zainal Abidin untuk diobati.

Dalam pikiran M Daan, sang manajer tak ingin masalah keluarga mengganggu penampilan pemainnya di lapangan. Akhirnya terbukti, timnya yang tampil kompak malah berhasil menang pada laga eksebisi tersebut.

"Secara pribadi saya berhutang budi dengan beliau. Secara tim atau pun tokoh olahraga, beliau sangat pantas menjadi panutan. Dedikasinya tak perlu diragukan lagi, sudah terbukti. Puluhan karung cengkeh dijualnya untuk menghidupi olahraga di Aceh," urai M Daan panjang lebar.

Itu pula yang membuat pria berkulit gelap ini berani bertaruh, hingga kini Aceh belum punya sosok semacam Dimurthala. "Sulit mencari orang yang ikhlas dan tulus seperti Pak Dimur," ucap pensiunan pegawai negeri ini.

Asri Soelaiman, Maulisman Hanafiah dan M Daan punya pandangan yang sama dalam mengomentari sosok idola ini. "Saya berani bertaruh, kalau Dimur masih hidup, Persiraja dan mungkin saja cabang olahraga yang lain tak akan seperti ini," tukas Asri.

Makanya Asri amat merindukan lahirnya pengganti Dimurthala di Aceh. Dia berharap sepatutnya ada pengusaha sekarang yang mengikut jejak lelaki kelahiran Pelanggahan, Banda Aceh itu. Dimur sendiri wafat pada suatu hari di tahun 1986. Dia pengusaha yang juga cinta olahraga.

"Untuk membangkitkan kembali gairah olahraga, perlu peran masyarakat, dalam hal ini pengusaha yang bersedia menjadi bapak angkat. Kalau tidak ya, akan seperti ini terus nasib kita. Tidak dapat sponsor, tak ada dana," ulas Asri.

Maulisman juga mengakui, tak mungkin berharap terlalu banyak pada pemerintah. "Masyarakat pengusaha juga patut turun tangan untuk mengairahkan kembali olahraga kita. Ini yang tak ada sekarang di Aceh," ungkap dia. "Padalah kita merindukan orang macam Dimurthala."

Kamis, 24 Juli 2014

Hasan Tiro dan Piala Dunia

Foto via Bandarpublising
PADA mulanya, Hasan Tiro seorang pengusaha di New York, Amerika Serikat. Kabarnya, dia juga punya jet pribadi. Sayang, tak ada info akurat yang menjelaskan, usaha apa saja yang dilakoni pria bernama lengkap Hasan Muhammad Di Tiro itu.

Sebagai konglomerat, memang, namanya tak sampai masuk dalam daftar orang terkaya di dunia versi banyak majalah. Dan, sungai uangnya pun bukan seperti juragan minyak Rusia, Roman Abramovich yang menjadi bos klub Chelsea yang baru saja meraih tropi Liga Priemer Inggris.

Namun, Tiro punya banyak penggemar dan simpatisan di tanah kelahirannya; Aceh. Sama seperti halnya popularitas Abramovich di mata pendukung The Blues saat ini. Akan tetapi, karismatik Hasan Tiro bisa melebihi besarnya gudang uang taipan Rusia itu.

Pasalnya, Tiro lebih dari sekadar tokoh yang nyaris melangkahi kotak mitos. Secara pribadi, dia adalah seorang flamboyant telaten yang selalu tampil necis. Dia punya prinsip senantiasa tepat waktu. Benar seperti kredo klasik, “time is money,” Bagi Tiro setiap waktu akan selalu berarti. Karena itu, gagasannya untuk kemajuan Aceh tak pernah berhenti, meski waktu hidupnya berakhir.

Barangkali, atas alibi itulah, banyak simpatisannya di Aceh yang senantiasi menanti kedatangan pria yang dikalangan pendukungnya dilakabkan sebagai ‘Wali Nanggroe’. Sehingga tak salah, bila satu hari seusai mangkatnya Hasan Tiro, Kamis, 3 Juni 2010, bumi dan publik Aceh seakan digoyang ‘demam’.

‘Demam’ ini bisa kita lihat dari berita dan publikasi media terhadap sosok legendaris itu. Semua pengamat seakan tak pernah macet idenya ketika hendak menulis sosok yang nyaris mendekati puncak kultus ini.

Lalu, ‘demam’ berita serta pernak pernik Hasan Tiro juga melanda segala lapisan pendukung fanatiknya. Di area-area tertentu, foto Hasan Tiro terbingkai dalam pigura berwarna emas. Sesuatu yang tak pernah melingkari foto presiden negeri ini. Seakan-akan lalat pun tak boleh hingga di kacanya.

Fotonya semasa hidup diburu para pengikut setianya. Kliping Koran tak jarang di simpan rapi. Tak ada yang asli, terkadang hasil fotokopi pun jadi. Yang penting, gambar Wali ada di setiap dinding rumah. Mulai dari rumah yang bertipe megah, sampai rumah beratap rumbia. Sepertinya, dia hidup di relung-relung hati rakyat jelata. Jasad boleh saja berpisah dengan raga, tapi namanya tetap harum mengalahkan wangi seulanga.

Demam pendukung fanatik Wali bisa tak bertepi. Seperti demam yang kini juga sedang melanda seantero dunia. Saat mereka menanti kick off World Cup 2010 di benua hitam Afrika Selatan. Sanking gandrungnya, semua bola mania acap memburu setiap pernak-pernik yang berbau even empat tahunan itu. Atribut dan jersey tim kebanggaannya dibeli buat koleksi.

Tak jauh beda dengan narasi di atas tadi. Andai saja, Wali masih hidup dan berkesempatan menonton Piala Dunai 2010 untuk terakhir kali, mungkin polanya akan beda. Melintas ide iseng saya, dalam tanda tanya, Wali akan pilih tim Negara mana? Meski dia tak lagi seperti Abramovich yang selalu menunggang Chelsea. 

Pun begitu, setidaknya, apa yang digemari Hasan Tiro praktis akan referensi bagi ribuan pengikutnya. Ketika sampai pada tataran ini, saya ingin sekali melihat Wali tanpa jas dan dasi yang menjadi busana resminya sehari-hari. Tapi dengan balutan jersey bola kesukaannya.

Memang, meski usai sudah renta, tapi soal penampilan jangan ditanyai. Karena itu, makan boleh apa saja, asal tetap minum coca-cola. Soal berbusana, kita harus salut dengan tokoh perlawanan ini. Sepertinya dia paling mahfum, kapan harus terlihat bak aristokrat dan sebaliknya. Dia akan selalu menerima tamu dalam aroma wangi, tak mau apak dan pakaian supak. Tangan dan tatapannya tetap fokus pada pembicaraan. Sayang, usianya yang sudah senja, membuat kita tak bisa melihat lagi sikap aristrokasinya.

Gaya makan juga tidak krang-kring. Dia paling tahu kapan sendok harus menyentuh dasar piring, sebelum garpu menyusul. Persis seperti taktik pemain bola, menyerang dan bertahan tak bisa berbarengan. Semua harus disusun dan rapi, sehingga tak mengherankan jika foto-foto yang terpublikasi tak ada yang sedang bersarung, apalagi kaos oblong. Minimal pada masa-masa rehat mengusir penat.

Pada momen Piala Dunia ini, saya sebenarnya ingin sekali melihat dia memakai jersey kesukaannya, tanpa mengusik kenecisan dan kerapian yang menjadi khasnya Wali. Tentu juga, tanpa harus ‘memaksa’ dia memakai jersey negara mana yang ambil bagian di Piala Dunia.

Jika saja dia memilih mendukung beberapa negara peserta Piala Dunia, mungkin  yang berada diurutan pertama tak lain Swedia. Dia bakal punya alasan kuat, kenapa dia berpihak ke negara itu. Tak salah lagi, sebab dia warga negaranya. Seperti kita tahu, Tiro bermukim selama hampir tiga dasawarsa di Negara Skandinavia itu.

Asumsi ini mentah seketika, mengingat negeri Ibrahimovic ini gagal lolos ke Afrika Selatan. Dengan demikian, satu kandidat gugur dengan sendirinya. Bagimana jika dukungan mengalir ke Denmark, yang berada di grup E bersama Belanda, Kamerun dan Jepang.   

Sepertinya, Tengku Hasan tak berkenan. Alasannya singkat. Dia tak ingin ‘dinamit’ –julukan Denmark meledak-ledak. Sebab ledakan itu berpotensi merusak perdamaian, yang sudah dirintis di Helsinki, Finlandia pada 15 Agustus 2005. Kata dia, --mungkin-- bukan masanya lagi bikin ledakan sana-sini, apalagi sampai mengamuk untuk urusan yang masih bisa ditolerir.

Bagaimana dengan Belanda? Hasan Tiro punya ‘dendam’ turunan dengan negera para Meneer itu. Kecuali alasan sejarah, dari kacamata Tiro, dosa Belanda-lah yang membuat dia harus kembali ‘merebut’ Aceh dari tangan Indonesia dengan gerakan perlawanan yang dicetuskan pada 4 Desember 1976. Kesalahan inilah yang menurut Hasan Tiro dosa tak berampun. 

Negara Ratu Beatrix itu juga punya rekam jejak jelek di mata Hasan Tiro. Di tangan pasukan marsose, ‘Wali Nanggroe’ terakhir Teungku Maat di Tiro gugur dalam pertempuran Alue Bhot, Pidie, tanggal 3 Desember 1911. Mengutip Nezar Patria dalam tulisan “Perginya ‘Sang Wali’ Terakhir” (lihat http://nasional.vivanews.com) disebutkan, seusai itulah, Hasan Tiro menampilkan diri sebagai penyambung arus heroik sejarah ini, dan menggagas Aceh Merdeka.

Intinya, ‘Kerajaan Tanah-Tanah Rendah’ itu tak masuk dalam diari Hasan Tiro. Sakit hatinya tak terperi. Jika saja Belanda tidak idiot bin ‘primitif’—ucapan khasnya untuk menilai kebodohan-, mungkin dia tak perlu sibuk-sibuk harus turun bergerilya ke belantara.

Bergerilyanya Tiro juga tak terlepas dari lecutan filsuf eksistensialis Jerman, Friedrich Nietzsche. Jerman, --Negera yang di Piala Dunia kali ini berada di grup D bersama Serbia, Ghana dan Australia. Inilah yang membuat dia angkat kaki dari hutan beton New York guna menapaki hutan Aceh.

Setelah ‘bertemu’ filsuf itu di Fifth Avenue, New York, ‘bisikan’ Nietzsche mengiang kuat di telinganya. Kemudian, Sabtu, 30 Oktober 1976 dia pun mendarat di Kuala Tari, Pasi Lhok, Kabupaten Pidie sekitar pukul 08.30 WIB, setelah 25 tahun menetap di Amerika Serikat.

Mungkin saja dia tak akan mendukung pasukan Der Panzer, mengingat keterikatan emosional lebih dominan di altar pola pikir saja. Apalagi negara ini tak banyak membantu Tiro dalam misi besarnya. Pun begitu, dia tetap bersyukur karena selama sakit sebelum menghambus nafas terakhir masih di rawat di rumah sakit Jerman. Ya, New RSUZA Hospital itu dibangun atas bantuan Pemerintah Jerman melalui bank pembangunan negara itu (KFW) senilai sekitar Rp418,5 miliar.

Di barisan negara donor, bukan saja Jerman yang unjuk solidaritas, setidaknya ada 59 negara lain yang ikut membantu. Paling ini sekaran bisa kita lihat di Taman Internasional 'Aceh Thanks the World' di Blang Padang, Banda Aceh. Taman yang melingkar di tanah milik pemerintah daerah ini melambangkan persahabatan antarnegara, khususnya yang berkontribusi dalam rekonstruksi Aceh.

Hanya satu –mungkin-- yang membuat dia pergi menghadap Khalik penuh gusar. Buah hatinya, sang putra mahkota tak pernah terlihat di sisinya. Meski dia maklum, sang isteri juga butuh perhatian si anak yang kita berada di Ohio, Amerika Serikat. Dia negeri Paman Sam ini, Hasan Tiro punya sejuta memori. Mulai dari kisah asrama sampai pandangan haluan politiknya berubah di sana.

Di negara yang diproklamasikan 4 Juli 1776, Hasan Tiro menemukan cinta di mata bening Dora. Dari situlah lahir putra semata wayang, Karim Tiro namanya. Di New York pula, Tiro bertemu filsuf eksistensialis Jerman, Friedrich Nietzsche. Memori-memori ini tak banyak membantu Tiro untuk mendukung pasukan Barack Obama, yang berjuluk Sam's Army di Afrika Selatan.

Pasalnya, Amerika Serikat yang menjadi tumpuannya untuk menggapai ‘cita-cita’ tak banyak membantu. Di mata Tiro, mereka cuma menjadi penonton saja saat Aceh butuh dukungan politik Internasional. Sampai di sini, Hasan Tiro juga memiliki memori kelam di Ellis Island. Soalnya, saat paspornya dicabut Pemerintah Indonesia melalui Perdana Menteri Ali Sastroamidjojo ketika itu, Hasan Tiro dipenjara. Namun setelah membayar denda sebanyak US$ 500, baru dia dibebaskan.

Dan sejarah mencatat pula, 4 Desember 1976 adalah babak baru jejak hidup dan penjuangannya. Akibat tak enaknya masuk hutan keluar hutan selama tiga tahun.
Sampai-sampai pikirannya membersit masa-masa indah kala ia berjalan di Fifth Avenue, New York.

Karena alasan keamanan, lalu, pada 29 Maret 1979 dia meninggalkan Aceh. “Hanya orang gila dan dungu yang percaya bahwa aku tak akan kembali lagi,” tegas Hasan Tiro pada 28 Maret 1979 dalam The Prince of Freedom: The Unfinished Diary. Buku setebal 266 halaman itu ditulis Hasan Tiro selama tiga tahun bergerilya di rimba Aceh.

Dua tahun kemudian yakni pada 1981, catatan itu diterbitkan di London, Inggris. Tentu saja negeri Ratu Elizaberth ini menjadi negara ‘favorit’ ayah pria kelahiran Tanjong Bungoeng, 25 Sepetember 1925. Meski dalam vesi lain disebutkan dia lahir pada tahun berbeda yakni 1930.

Kenapa dengan Inggris? Pasalnya, jika ide membebaskan Aceh tercapai, dia ingin negerinya masuk dalam kelompok Negara-Negara Persemakmuran (Commonwealth of Nations). Paling tidak Aceh bisa menjadi negara ke-55 yang bergabung dalam Kerajaan Persemakmuran atau "Commonwealth Realm" yang dikendalikan Ratu Elizabeth II sebagai Ketua Persemakmuran.

Tiro ingin ‘bergabung dengan Malaysia, Brunai Darussalam, Singapura, India, Pakistan, Sri Lanka, Maladewa serta lainnya. Negera-negara tersebut sudah lebih dulu bergabung, kendati tak sekalipun berkecimpung di altar Piala Dunia. Khusus Malaysia, Wali juga mengalung jasa. Pada masa Aceh dikurung status Daerah Operasi Militer, banyak orang Aceh lari ke Malaysia, termasuk serdadu GAM, dan mereka yang dituduh terlibat gerakan itu. Sebagian ditangkap penguasa Malaysia.

Demi untuk kepentingan ‘politik’-nya, dia senantiasa mendukung The Three Lions luar dalam. Apalagi jika bisa menembus final dan juara. Bertemu Belanda, Amerika Serikat, Jerman, Spanyol, Italia atau Brazil itu bukan perkara. Persoalan lawan di final tak menjadi soal, asal yang penting juaranya tetap pasukan The Saint George Cross.

Tentu saja, pada momen Piala Dunia ini, Hasan Tiro tak ingin melewatkan kesempatannya untuk menyaksikan Wayne Rooney cs bertanding di Stadion Royal Bafokeng di Rustenburg. Kota ini terletak di bagian barat laut Afrika Selatan.

Bila kemudian dia ‘membenci’ Amerika Serikat, maka negara lain yang dibela selain Swedia, pasti Libya. Pada 1986, dia memilih Libya sebagai kamp pelatihan militer. Di negara itulah dia, Hasan membangun gerakan bersenjatanya. Dan sampai akhir hayat pun, para mantan serdadu dengan sandi ‘Pengawal Tripoli’ tetap mengawal jasadnya ke pembaringan terakhir.

Bentuk pembelaan lain Tiro, bisa kita dengar dari dia berpidato dalam Konferensi Dunia Gerakan Pembebasan, dan meminta para anggota organisasi itu membela Libya. Dia mengatakan, “Libya diancam dengan perang tidak sah, oleh AS dan sekutu Zionisnya, Israel, karena berani membela hak menentukan nasib sendiri bangsa Palestina. Sejarah mencatat, kejadian itu April 1986, di mana Amerika Serikat melancarkan Operasi El Dorado Canyon menyerang Tripoli dan Benghazi.

Sehari sebelum peluit Piala Dunia melengking, sang Wali sudah melewati tujuh hari di alam kubur. Sampai-sampai ‘keisengan’ untuk melihat Wali tak bersafari pun ikut terkubur dalam angan.  [a]