SUHU bumi belakangan ini kian ekstrem saja. Sulit memprediksi kapan
cuaca panas dan dingin berbagi tempat. Musim kemarau kacau balau, belum lagi
musim hujan yang terkadang di luar perkiraan. Mungkin ini pertanda bumi sudah mulai
bosan pada ulah manusia.
Kondisi yang tak
bersahabat ini, bukan saja membuat sesak orang dewasa, para bayi baru lahir
juga lebih tersiksa lagi. Karena itu, ada sebuah warkah saya persembahkan
kepada para bayi yang lahir suci. Dengan asa agar pesan beraroma petuah bisa
membentengi hati mereka.
Marhaban para
buah hati. Inilah dunia. Jangan bersedih bila di sini cuaca tak menentu. Suhu
bumi juga selalu aneh saban waktu. Kadangkala cuaca dingin selepas hujan, lain
kali malah panas sekali. Atau bahkan dalam waktu tertentu bisa saja terjadi
berbarengan.
Suhu udara yang
tak menentu, sudah lazim di sini. Karena memang bumi tak lagi muda. Usia dunia
sudah renta. Karena itu, cuaca panas dan dingin bisa merambat seketika, seperti
kamu buang air saja. Kata orang itu akibat global
warming. Bahasa lain dari pemanasan global.
Itu terjadi bukan
akibat kelahiranmu. Makanya jangan bersedih,
mungkin itu sudah hukum alam. Memang, saat kamu lahir, sebatang rokok kemudian,
hujan turun mengguyur kepenatan.
Sejuk dan dingin
bergantian. Besoknya, cuaca berubah lagi. Panas. Dan kamu menangis.
Kamu juga sudah
merasa, bumi ini memang sangat panas. Panas juga dengan segala urusan, termasuk
urusan politik yang selalu bikin kondisi daerah pelik. Tapi, kamu lupakan saja
urusan kekuasaan dengan ragam kepentingan.
Urusan kita adalah bagaimana meniti hidup sesuai tuntunan Ilahi.
Karena itu, kamu
jangan takut kelaparan. Sebab di negeri ini seperti kata Koes Plus--kayu dan
batu jadi tanaman. Terbukti, hasil bumi melimpah ruah, meski penduduknya hidup
susah. Kamu hidup di negeri bahari, banyak ikan di laut sana, walau adakalanya,
harga setinggi puncak Seulawah.
Bukan hanya di
laut, di darat pun sungguh dahsyat.
Sebagai daerah agriaris, negeri ini cukup pangan untuk menghidupi
penduduknya. Tapi kamu jangan heran, bila beras pun harus diimpor dari Vietnam
dan Thailand. Sebab sawah dan ladang di sini tidak lagi hijau dengan padi dan
palawija. Semua sudah berganti dengan tumbuhan ‘batu-bata’.
Tapi kamu jangan
kalut. Untuk menghidupi pendatang baru sepertimu, segala upaya dilakukan para
orang tua. Meski kadangkala, ada orang yang khilaf dan terpaksa mencuri demi
sesuap nasi serta sekaleng susu.
Pohon Kehidupan
Kondisi bumi yang ‘babak belur’ dengan cuaca makin tak teratur,
sebenarnya bisa teratasi bila semua orang bersahabat dengan alam. Oleh sebab
itu, satu pesan saya, bila kamu sudah tumbuh dewasa, jangan merusak hutan dan jangan
pula mencemari lingkungan dengan segala hal.
Untuk bekal hidupmu kelak, saya hanya bisa mewarisimu dengan lima
batang pohon. Pohon itu kami tanam sehari setelah kamu lahir. Semoga saja ini
menjadi tradisi bagi para orang tua di kemudian hari. Setiap menyambut
kelahiran anak (bayi), minimal ada satu batang pohon yang tumbuh bersemi.
Kenapa pohon? Itulah pohon kehidupan. Bila kamu kepanasan, bisa
berteduh di bawah cabang yang rindang. Selain pohon yang mampu membuat rumahmu rindang,
ada pula pohon-pohon lain yang semuanya bermanfaat bagi kehidupan.
Kecuali bisa menyerap karbondioksida, dia juga memberi banyak guna
untuk kehidupanmu kelak. Seiring dengan pertumbuhan usiamu, kamu akan bisa
merasakan manfaatnya tatkala mulai beranjak dewasa.
Tapi kamu jangan lupa menyiram dan memberi pupuk agar dia tak mati
dan lapuk. Harus kamu sirami saban hari dan merawat sepenuh hati. Jangan
seperti orang-orang yang hanya menanam pohon, saat ada untungnya saja dalam
banyak acara seremoni.
Contohnya, saat mendapat proyek penanaman seribu pohon. Program
itu sebenarnya bagus, tapi sayang dia tidak berkesinambungan. Bahkan terkadang
tak pernah disiram, sehingga mati kepanasan. Kalau hujanlah, pohon-pohon itu
bisa ‘mandi’ dengan riang, selebihnya wallahualam.
Kamu jangan mencontohi mereka, yang cuma menjual isu penghijauan
demi beraneka kepentingan. Padahal kita butuh ketulusan serta sebukit pengorbanan
demi menghijaukan kembali bumi kita yang kadung gersang.
Untuk lima batang pohon yang kami tanam, jangan kamu khawatirkan.
Sebab untuk merawat dia tak menunggu turun hujan. Pagi dan sore dia selalu kami
sirami. Juga kami taburi dengan pupuk kasih sayang seperti banyak orang tua
menyayangi sepenuh hati anaknya.
Karena itu, kamu jangan melihat lima batang pohon itu cuma sebagai
usaha mainan. Sebab dibalik itu, lima pohon tersebut juga sebagai pertanda. Ya,
itulah symbol kehidupan yang jangan kamu lupakan sepanjang hidup.
Ada lima perkara yang wajib kamu anuti, sebagai bekal hidupmu
dikemudian hari. Lima perkara itu tinggal kamu ingat saja, bahwa rukun Islam
ada lima perkara. Agama kita juga menganjarkan umatnya sebagai khalifah di muka
bumi untuk menjaga alam dan tak membuat kemungkaran, termasuk mungkar terhadap lat batat kaye batee.
Pesan endatu ini harus
kamu turuti meski dalam berbagai kondisi. Jangan sekali-kali kamu ingkari.
Sebab merawat alam dan menjaga lingkungan juga bermaafkan bagi kamu dan
kehidupanmu di masa mendatang.
Semoga
kamu tak pernah ragu dengan pesan itu. Yakinlah, waktu yang akan membungkus pesan
ini untuk kamu pahami di kemudian hari. Jika ini benar, kamu sebarkan kepada
semua orang, agar setiap satu bayi yang lahir menaman sebatang pohon. Barangkali
dengan slogan one child one
tree, belasan tahun kemudian bumi akan hijau.
Bayangkan saja, jika setiap keluarga yang berbunga-bunga menyambut
kelahiran bayinya, lalu menanam sebatang pohon. Tentu hutan akan rindang, bumi
tak lagi gersang, hidupmu pun tak selalu kepanasan. Ya, hitung-hitung berbakti
kepada alam untuk menembus dosa para kakek dan nenek kita yang barangkali dulu juga
ikut menebang sembarangan.
Mulai sekarang, kamu jangan menyesali terlahir di bumi ini, kendati suhu sudah tak menentu. Walau sawah sering
kering kerontang dan ladang terus gersang. Meski hutan ditebang berganti
tambang, tapi, masih ada sebungkus asa, kamu jangan turuti cara ‘gila’ mereka
merusak alam.
Selama langit masih biru, dan laut terus bergelombang, selama itu
pula kamu bisa hidup tanpa harus mengeruk isi bumi. Meski masih ada sedikit sisa hutan buat kehidupan,
itu wajib terus di jaga dengan segala daya, agar suatu saat hidupmu sejahtera. [a]

EmoticonEmoticon